MAN Lasem Harumkan Rembang lewat Kitab Kuning

Ayoo Bantu Share ya...
NAMA Shofiatul Indah Astuti mungkin tidak begitu akrab didengar di telinga warga Kabupaten Rembang. Maklum saja, perempuan berusia 16 tahun ini hanya merupakan siswa kelas XI MAN Lasem.
Namun, siapa sangka perempuan manis ini adalah jawara baca kitab kuning tingkat pelajar se-Karesidenan Pati dan Semarang
Ia berhasil mengharumkan nama Rembang lantaran berhasil menyisihkan banyak pesaingnya dari madrasah lainnya. Saat ditemui Suara Merdeka kemarin ia menceritakan perjalan beratnya bisa memperdalam kitab kuning. Proses belajar yang ia lalui memang lain dari pada yang lain.
Sebab, bungsu dua bersaudara ini memang sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Keberadaan madrasah diniyyah di desanya yang membuatnya bisa memperdalam kitab yang banyak dipelajari di dunia pesantren itu.
Apalagi, di sekolahnya MAN Lasem difasilitasi program esktrakurikuler dan muatan lokal kajian kitab kuning yang membuatnya semakin menguasai berbagai kitab kuning yang ada. ”Saya belajar kitab kuning sejak kelas 3 ibtidaiyah.
Selama itu saya kerab ikut lomba membaca kitab kuning, dan Alhamdulillah berhasil menjadi juara. Setelah masuk di MAN Lasem, saya semakin fokus belajar kitab kuning karena ada program dari sekolah,” ujar penghobi bakso ini.
Cita-cita
Menurut Indah, belajar kitab kuning tidak harus berada di pesantren. Masih banyak jalan yang bsia ditempuh untuk mempelajari kitab yang umumnya tanpa dilengkapi dengan tanda baca itu (harakat). ”Kunci belajar apa pun itu senang terlebih dahulu, tidak bisa dipaksakan.
Termasuk belajar kitab kuning, yang terpenting senang untuk belajar dulu. Kalau terus belajar dan mengikuti arahan ustadz pengajar, pasti bisa menguasai kitab kuning,” kata dia.
Terkait berbagai prestasinya di bidang lomba baca kitab kuning, perempuan lemah lembut ini punya satu cita-cita besar yang ingin diwujudkannya. Meskipun kedua orang tuanya hanya pasangan petani, namun suatu saat ia ingin memiliki pesantren.
Ia ingin mengajarkan ilmu agama yang banyak terdapat dalam berbagai kitab kuning itu kepada para santrinya kelak, sehingga kemampuannya bisa tertularkan kepada lebih banyak kalangan remaja.
”Belajar kitab kuning itu memang sulit dan menantang. Namun, kesulitan dan tantangan tersebut yang membuat belajar kitab kuning menjadi lebih mengasyikan. Yang terpenting dicoba dulu untuk belajar dan jangan merasa tidak bisa,” ujar dia.
sumber : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/harumkan-rembang-lewat-kitab-kuning/
Leave a reply